Dunia Sepak Bola Berduka: Tragedi Labuan Bajo Merenggut Nyawa Pelatih Valencia dan Tiga Anaknya

Labuan Bajo , NTT — Dunia sepak bola internasional berduka setelah kabar meninggalnya Fernando Martín Carreras , mantan pesepak bola profesional Spanyol sekaligus pelatih Valencia CF Femenino B , dalam kecelakaan kapal wisata di perairan Pulau Padar , Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur, pada Jumat malam, 26 Desember 2025. Dalam peristiwa tragis tersebut, Fernando meninggal dunia bersama tiga anaknya yang masih berusia belia. Kabar ini mengguncang komunitas sepak bola Eropa dan internasional. Valencia CF serta sejumlah klub besar Eropa menyampaikan duka mendalam atas kepergian sosok yang dikenal berdedikasi dalam membina pemain muda.

Kehidupan Setelah Perpisahan – Kenangan Abadi Cinta Thebaldus & Anjany

 Bab 19

 Kehidupan Setelah Perpisahan



Waktu berjalan. Ruteng tetap dengan kabutnya yang dingin, Surabaya tetap dengan riuh panasnya. Tapi hati Thebaldus dan Anjany sudah tidak lagi berjalan beriringan.


Anjany akhirnya menyelesaikan kuliahnya. Hari wisuda datang. Ia mengenakan toga, berdiri bersama teman-temannya, tersenyum pada kamera. Namun di balik senyum itu, ada ruang kosong yang tak bisa diisi siapa pun—ruang yang dulu milik Thebaldus.


Sementara itu, di Surabaya, Thebaldus semakin sibuk. Pekerjaan menelannya, hari-harinya penuh angka, rapat, dan target. Tapi di sela-sela kesibukan, bayangan Anjany masih sering muncul. Kadang ketika ia lelah, ia ingat senyum gadis itu di bawah senja Ruteng. Kadang ketika ia makan malam sendirian, ia ingat rumah makan Padang tempat mereka dulu tertawa bersama.


Mereka tidak lagi saling menghubungi. Tapi di malam-malam tertentu, ketika hujan turun, keduanya sama-sama menatap jendela dan bertanya dalam hati: “Apa kamu juga sedang mengingat aku?”



Bab 20: Kenangan yang Abadi


Tahun berganti. Luka perlahan sembuh, meski bekasnya tetap ada. Cinta mereka memang tidak lagi bersama, tapi bukan berarti hilang. Ia berubah bentuk—dari rasa ingin memiliki, menjadi rasa syukur pernah memiliki.


Suatu sore, Anjany berjalan sendirian di tepi Danau Rana Mese. Angin berhembus, riak air berkilau diterpa cahaya matahari. Ia tersenyum kecil.


"Kita pernah janji di sini,” bisiknya.


“Kamu janji akan kembali, aku janji akan menunggu. Dan meski janji itu tak terjaga, aku tetap bahagia pernah menjalaninya.”


Di Surabaya, Thebaldus duduk di kafe kecil, menulis catatan di buku lusuhnya. Ia menulis puisi pendek:


Cinta bukan selalu tentang bersama.

Kadang cinta adalah doa diam-diam,

agar kau bahagia meski bukan denganku.”


Cinta mereka tidak berhasil bertahan. Tapi cinta itu tidak mati. Ia hidup dalam kenangan, dalam setiap senja, dalam setiap kabut Ruteng, dalam setiap rindu yang hanya bisa disimpan sendiri.


Dan pada akhirnya, Thebaldus dan Anjany belajar satu hal penting:

Bahwa cinta sejati tidak selalu berarti memiliki, tapi mampu merelakan dengan tulus.


Kisah mereka berakhir, tapi kenangannya akan selalu abadi.



Postingan populer dari blog ini

Pi Network 2025: Harga Terbaru, Kontroversi, dan Masa Depan Open Mainnet

BSU Oktober 2025 Cair? Begini Cara Cek Nama Penerima Lewat HP di Situs Resmi

Kisah Haru di Balik Wisuda: Pengorbanan yang Tak Terlihat dari Mama Martina dan Bapa Damianus

Harga Smartphone Flagship September 2025 di Indonesia: iPhone 17, Samsung S26, dan Google Pixel 10 Turun Harga?

Bocoran iPhone 17e & iPhone 17 Series: Harga, Spesifikasi, dan Tips Membeli

SEKOLAH DAN MASYARAKAT: RELEVANSI BESAR PEMIKIRAN JOHN DEWEY DALAM MENGGUGAT TRADISI PENDIDIKAN MODERN

Panduan Memilih iPhone Terbaik 2025: iPhone 15, 14, 13, dan SE, Mana yang Paling Cocok?

Cara Usul Jadi Penerima BLT Kesra Rp 900 Ribu di Aplikasi Cek Bansos Kemensos

Samsung Galaxy A17 5G: Ponsel 5G Murah Samsung Kini Lebih Premium

Huawei MatePad Air 2025, MatePad 12 X, dan MatePad 11.5 Resmi Dirilis: Spesifikasi, Fitur, dan Harga